Di
artikel saya kali ini, saya akan membahas tentang INDIVIDU, KELUARGA dan
MASYARAKAT. Saya akan menekankan pembahasan tentang masyarakat. Disini
masyarakat itu sendiri ada dua golongan, yaitu masyarakat non industri dan
masyarakat industri.
1.
Masyarakat Non Industri
Kita telah tahu secara garis besar bahwa , kelompok nasional atau organisasi kemasyarakatan non industri dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu kelompok primer (primary group) dan kelompok sekunder (secondary group).
Kita telah tahu secara garis besar bahwa , kelompok nasional atau organisasi kemasyarakatan non industri dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu kelompok primer (primary group) dan kelompok sekunder (secondary group).
a.
Kelompok primer
Dalam kelompok primer, interaksi antar anggota terjalin lebih intensif, lebih erat, lebih akrab. Di karenakan para anggota kelompok sering berdialog, bertatap muka, sehingga mereka mengenal lebih dekat, lebih akrab.
Dalam kelompok-kelompok primer bercorak kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati. Pembagian kerja atau pembagian tugas pada kelompok menerima serta menjalankan tugas tidak secara paksa, lebih dititik beratkan pada kesadaran, tanggung jawab para anggota dan berlangsung atas dasar rasa simpati dan secara sukarela.
Dalam kelompok primer, interaksi antar anggota terjalin lebih intensif, lebih erat, lebih akrab. Di karenakan para anggota kelompok sering berdialog, bertatap muka, sehingga mereka mengenal lebih dekat, lebih akrab.
Dalam kelompok-kelompok primer bercorak kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati. Pembagian kerja atau pembagian tugas pada kelompok menerima serta menjalankan tugas tidak secara paksa, lebih dititik beratkan pada kesadaran, tanggung jawab para anggota dan berlangsung atas dasar rasa simpati dan secara sukarela.
Contohnya :
Saat
kita berinteraksi dengan keluarga kita, interaksi tersebut terjalin lebih
intensif, lebih erat, dan lebih akrab. Contohnya saat kita makan bersama
keluarga, atau berlibur bersama keluarga. Saat itu pasti tetap ada pembagian
kerja antar anggota keluarga, tapi pembagian kerja tersebut lebih menekankan
pada kesadaran dan tanggung jawab diri anggota masing-masing. Sehingga kita
melakukan pekerjaan tersebut lebih enjoy dan lebih ringan. Karena pembagian
kerja tersebut lebih adil.
b.
Kelompok sekunder
Antara anggota kelompok sekunder, terpaut saling hubungan tak Iangsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan. Oleh karen yaitu, sifat interaksi, pembagian kerja, pembagian kerja antaranggota kelompok di atur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasional, obyektif. Para anggota menerima pembagian kerja/pembagian tugas atas dasar kemampuan; keahlian tertentu, di samping dituntut dedikasi. Hal-hal semacam itu diperlukan untuk mencapai target dan tujuan tertentu yang telah di flot dalam program-program yang telah sama-sama disepakati.
Antara anggota kelompok sekunder, terpaut saling hubungan tak Iangsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan. Oleh karen yaitu, sifat interaksi, pembagian kerja, pembagian kerja antaranggota kelompok di atur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasional, obyektif. Para anggota menerima pembagian kerja/pembagian tugas atas dasar kemampuan; keahlian tertentu, di samping dituntut dedikasi. Hal-hal semacam itu diperlukan untuk mencapai target dan tujuan tertentu yang telah di flot dalam program-program yang telah sama-sama disepakati.
Contohnya
:
Dalam
sebuah perusahaan, kita menjalani sebuah hubungan yang formal dan adanya
pembagian kerja. Pada saat kita diterima diperusaahn tersebut kita telah
ditentukan akan ditempatkan dibagian mana berdasarkan keahlian kita
masing-masing. Ditambah lagi adanya tuntutan target/tujuan yang harus kita
capai. Saat terjadi pembicaraan antara anggota satu dengan yang lain, pasti
akan timbul sikap yang saling asing. Semua itu menyebabkan kurang adanya rasa
kekeluargaan antara sesama anggota, karena kita telah disibukkan dengan target
kita tadi.
2.
Masyarakat
Industri
Durkheim mempergunakan variasi pembagian kerja
sebagai dasar untuk mengklasifikasikan masyarakat, sesuai dengan taraf perkembangannya.
Akan tetapi kita lebih cenderung mempergunakan dua taraf klasifikasi, yaitu
yang sederhana dan yang kompleks. Masyarakat-masyarakat yang berada di tengah
kedua eksterm tadi diabaikannya (Soerjono Soekanto, 1982 : 190).
Jika pembagian kerja bertambah kompleks, suatu tanda
bahwa kapasitas masyarakat semakin tinggi. Solidaritas didasarkan pada hubungan
saling ketergantungan antara kelompok-kelompok masyarakat yang telah mengenal
pengkhususan.Otonomi sejenis, juga menjadi ciri dari bagian/kelompok-kelompok
masyarakat industri. Otonomi sejenis dapat diartikan dengan kepandaian/keahlian
khusus yang dimiliki seseorang secara mandiri, sampai pada batas-batas
tertentu.
Contohnya:
Contohnya:
Dapat
kita ambil sebuah contoh, yaitu ahli mesin.Para ahli mesin tersebut dapat
bekerja secara mandiri. Tetapi kebanyakan dari mereka hanya mengerjakan sesuatu
yang sudah ada sebelumnya dan mengembangkan hal-hal tersebut. Bagi para ahli
mesin tersebut, mengerjakan sesuatu yang sudah ada dan mengembangkannya itu
akan lebih menguntungkan daripada mereka menciptakan hal baru yang belum tentu
berhasil. Saat mereka mengerjakan sesuatu, mereka hanya mengutamakan
kepentingan mereka masing-masing tanpa memperdulikan rasa kekeluargaan.
Sehingga faktor waktu bagi mereka lebih penting dan berharga, pembagian waktu
tersebut sangat penting untuk mengejar kepentingan individu diantara mereka.
Oke
sahabat blogger semua, sekian pembahasan dari saya. Intinya perbedaan antara
masyarakat non-industri dan industri adalah tempat tinggal dan hubungan antar
sesama. Mereka sangat berbeda dalam segi kekeluargaan dan perkembangan, tapi
bagaimanapun juga mereka tetap memiliki pembagian kerja berdasarkan keahlian
dan kebisaan mereka masing-masing. Sekian sahabat blogger, samap bertemu
kembali ....
Sumber Materi : http://arbip.blogspot.co.id/2009/12/pengenalan-tentang-masyarakat-industri.html
Sumber Materi : http://arbip.blogspot.co.id/2009/12/pengenalan-tentang-masyarakat-industri.html






















